
Mohammed Shahabuddin Resmi Mundur dari Presiden Bangladesh
infolangsung.org – Presiden Bangladesh Mohammed Shahabuddin mengundurkan diri dari jabatannya dua tahun sebelum masa kepemimpinannya berakhir. Keputusan tersebut diambil dengan alasan kondisi kesehatan yang terus memburuk. Pengunduran diri ini memicu perubahan kepemimpinan sementara di Bangladesh dan terjadi di tengah dinamika politik yang masih berkembang setelah pergantian pemerintahan.
“Baca Juga: Mahkamah Konstitusi Larang Sisa Kuota Internet Hangus”
Ketua Parlemen Nasional, Hafiz Uddin Ahmad, mengonfirmasi pengunduran diri Mohammed Shahabuddin dalam konferensi pers pada Jumat malam. Ia menjelaskan bahwa surat pengunduran diri telah diterima secara resmi dari presiden.
Sesuai ketentuan yang berlaku, Ketua Parlemen akan menjalankan tugas sebagai presiden sementara. Jabatan tersebut akan diemban hingga Bangladesh memilih presiden baru.
Langkah ini memastikan proses pemerintahan tetap berjalan tanpa kekosongan kepemimpinan. Otoritas negara juga menegaskan bahwa mekanisme transisi akan mengikuti aturan konstitusi yang berlaku.
Jabatan presiden di Bangladesh sebagian besar bersifat seremonial. Meski demikian, pergantian kepala negara tetap menjadi peristiwa penting dalam sistem ketatanegaraan negara tersebut.
Dalam surat yang disampaikan kepada Ketua Parlemen, Shahabuddin menjelaskan alasan utama pengunduran dirinya. Ia menyebut mengalami beberapa masalah kesehatan yang memengaruhi kemampuannya menjalankan tugas.
Presiden berusia 76 tahun itu mengatakan dirinya didiagnosis menderita neuropati otonom. Penyakit tersebut menyebabkan dirinya sesekali kehilangan kesadaran dalam waktu singkat.
Laporan juga menyebut Shahabuddin menjalani perawatan di Rumah Sakit Militer Gabungan selama dua hari terakhir sebelum mengundurkan diri. Kondisi tersebut menjadi dasar keputusan untuk mengakhiri masa jabatannya lebih awal.
Masa jabatan Shahabuddin sebenarnya dijadwalkan berakhir pada April 2028. Namun, alasan kesehatan membuatnya memilih mundur sebelum masa tugas lima tahunnya selesai.
Mohammed Shahabuddin terpilih tanpa lawan pada 2023 sebagai calon dari Partai Awami League yang dipimpin mantan Perdana Menteri Sheikh Hasina. Saat itu, ia memperoleh mandat untuk memimpin selama lima tahun.
Situasi politik Bangladesh berubah drastis setelah Sheikh Hasina meninggalkan negara itu menuju India pada Agustus 2024. Shahabuddin tetap menjabat dan mengawasi masa transisi pemerintahan setelah peristiwa tersebut.
Pemerintahan sementara ketika itu dipimpin oleh peraih Nobel, Mohammad Yunus. Masa transisi kemudian berlanjut hingga pelaksanaan pemilihan umum pada Februari lalu.
Hasil pemilu mengantarkan Tarique Rahman dari Partai Nasional Bangladesh menjadi pemimpin pemerintahan. Sementara itu, Partai Awami League yang sebelumnya berkuasa tidak diizinkan mengikuti pemilu setelah dinyatakan dilarang.
“Baca Juga: SK Hynix Prediksi Krisis Memori Terburuk Terjadi 2027″
Selain alasan kesehatan, laporan Reuters yang mengutip tiga sumber menyebut terdapat faktor politik di balik pengunduran diri Shahabuddin. Menurut laporan tersebut, pemerintahan Tarique Rahman disebut memberikan tekanan agar presiden mengakhiri masa jabatannya.
Tekanan tersebut dikaitkan dengan hubungan lama Shahabuddin dengan Sheikh Hasina. Kedekatan itu disebut menjadi salah satu pertimbangan di tengah perubahan politik nasional.
Sebelumnya, pada November 2025, pengadilan Bangladesh menjatuhkan hukuman mati secara in absentia kepada Sheikh Hasina. Putusan tersebut berkaitan dengan perannya dalam tindakan keras terhadap demonstran yang berujung pada penggulingannya dari kekuasaan.
Hasina juga telah mengumumkan rencana kembali ke Bangladesh pada Desember. Dengan pengunduran diri Shahabuddin, perhatian kini tertuju pada proses pemilihan presiden baru serta perkembangan politik Bangladesh dalam beberapa bulan mendatang.