
Game PlayStation 5 Terancam Hilang Saat Offline 30 Hari
infolangsung.org – Sony sedang menjadi sorotan setelah muncul laporan soal DRM baru di PS4 dan PS5. Kebijakan ini disebut memengaruhi game digital yang baru dibeli. Banyak gamer langsung menyampaikan kekhawatiran.
Inti klaim yang beredar cukup sensitif bagi pengguna digital. Semua game digital baru disebut wajib terkoneksi internet setiap 30 hari. Jika tidak, lisensi dapat dinonaktifkan sementara.
Akibatnya, game tidak bisa dimainkan sampai konsol kembali online. Informasi ini pertama kali ramai di komunitas daring. Nama yang sering disebut adalah modder dan kreator konten Lance McDonald.
“Baca Juga: Pengguna Reddit Buat Controller Gaming Satu Tangan”
Ia mengunggah thread yang menyoroti dugaan sistem DRM baru tersebut. Unggahan itu cepat menyebar dan memicu diskusi luas. Banyak pemain menilai kebijakan seperti ini berlebihan.
Sampai saat ini, belum ada konfirmasi resmi dari Sony. Karena itu, laporan tersebut masih berstatus klaim komunitas. Namun reaksinya sudah terlanjur besar.
DRM adalah singkatan dari Digital Rights Management. Sistem ini dipakai untuk memverifikasi kepemilikan lisensi digital. Tujuannya adalah mencegah distribusi ilegal dan pembajakan.
Dalam praktiknya, DRM bukan hal baru di industri game. Banyak judul multiplayer sudah lama memerlukan koneksi online. Beberapa game single-player tertentu juga pernah memakai sistem serupa.
Masalah muncul ketika verifikasi dianggap terlalu ketat. Jika game berbayar tidak bisa diakses tanpa internet rutin, pemain merasa dirugikan. Terutama untuk produk yang dibeli penuh.
Menurut klaim yang beredar, konsol memiliki hitungan hari lisensi. Setelah 30 hari tanpa koneksi ke PlayStation Network, lisensi dianggap kedaluwarsa sementara. Pengguna harus online kembali untuk mengaktifkannya.
Bagi banyak gamer, hal ini mengubah makna kepemilikan digital. Pembelian terasa seperti sewa lisensi jangka panjang. Bukan kepemilikan permanen seperti media fisik.
Beberapa laporan menyebut aturan ini hanya berlaku untuk game digital baru. Koleksi lama yang dibeli pada tahun sebelumnya disebut tidak terdampak. Informasi ini sedikit meredakan kekhawatiran sebagian pengguna.
Artinya, pustaka digital lama kemungkinan tetap berjalan normal. Gamer dengan banyak koleksi lama belum tentu terkena dampak langsung. Namun pembelian baru menjadi pertanyaan utama.
Ada pula klaim lain yang menambah kontroversi. Pengaturan konsol utama disebut tidak lagi menghindari batas 30 hari. Biasanya fitur itu membantu akses lisensi pada perangkat utama.
Jika klaim tersebut benar, status primary console tidak banyak membantu. Konsol tetap harus melakukan check-in berkala. Ini membuat pengguna merasa pilihan mereka dibatasi.
Karena belum ada penjelasan resmi, rincian teknis masih kabur. Namun diskusi soal pembatasan akses terus berkembang. Komunitas menunggu kepastian yang jelas.
Kebijakan seperti ini paling berat bagi pengguna dengan internet terbatas. Tidak semua pemain memiliki koneksi stabil setiap saat. Kondisi ini umum di banyak wilayah.
Sebagian orang menyimpan konsol di rumah keluarga atau kosan. Ada juga yang memainkan konsol di lokasi tanpa Wi-Fi tetap. Mereka bisa kesulitan memenuhi syarat check-in bulanan.
Situasi menjadi janggal untuk game single-player. Pemain membeli game untuk dimainkan kapan saja. Namun akses bisa tertunda hanya karena tidak tersambung internet.
Bagi kolektor, isu ini juga sensitif. Banyak orang membeli game digital sebagai arsip jangka panjang. Jika akses bergantung server, rasa aman koleksi berkurang.
Kekhawatiran lain adalah masa depan server. Jika suatu hari layanan terganggu, akses game bisa ikut terdampak. Ini memicu diskusi soal pelestarian game digital.
“Baca Juga: DRM PlayStation Indikasikan Risiko Game Digital”
Respons komunitas sejauh ini didominasi nada negatif. Banyak gamer menilai kebijakan semacam ini anti-konsumen. Sebagian mulai mempertimbangkan kembali membeli versi digital.
Ada juga yang menyebut media fisik terasa lebih aman. Disk fisik dianggap memberi kendali lebih nyata kepada pembeli. Setidaknya akses tidak selalu bergantung verifikasi daring.
Namun penting dicatat, laporan ini belum dikonfirmasi resmi Sony. Sejumlah media dan kreator konten juga menekankan hal tersebut. Statusnya masih berupa klaim yang beredar.
Karena itu, pernyataan resmi Sony sangat dinantikan. Penjelasan transparan dibutuhkan agar pengguna memahami situasi sebenarnya. Kejelasan teknis akan menentukan reaksi pasar selanjutnya.
Jika kebijakan ini benar diterapkan luas, dampaknya besar. Perdebatan soal kepemilikan digital akan kembali menguat. Industri game akan menghadapi pertanyaan baru tentang hak konsumen di era lisensi.