infolangsung.org – Kepolisian Republik Indonesia (Polri) mengklaim berhasil menangkap pelaku siber yang mengatasnamakan Bjorka. Namun, pengumuman ini langsung memicu keraguan di kalangan netizen. Banyak yang menganggap penangkapan tersebut hanya pengalihan isu dan sang tersangka dijadikan kambing hitam.
“Baca Juga: Komdigi Rencanakan Sistem Blokir dan Balik Nama IMEI”
Kecurigaan bertambah setelah muncul akun Instagram yang mengaku sebagai Bjorka. Akun tersebut menyatakan bahwa Bjorka masih bebas dan tidak tertangkap. Bahkan, akun ini mengunggah tangkapan layar data dari situs Badan Gizi Nasional (BGN). Data tersebut terkait program Makanan Bergizi Gratis (MBG), sebuah program unggulan Menteri Pertahanan Prabowo Subianto.
Situasi ini menimbulkan pertanyaan soal keaslian penangkapan dan kemampuan aparat menangani kasus siber besar. Netizen juga mempertanyakan apakah benar pelaku asli sudah diamankan atau hanya pengguna nama yang berbeda.
Kasus ini semakin menarik perhatian karena data-data penting yang terus dibocorkan oleh Bjorka meski penangkapan telah diumumkan. Kejadian ini mengindikasikan bahwa sosok Bjorka sesungguhnya masih beraksi dan belum tertangkap.
Bjorka Bocorkan Data Pribadi Anggota Polri Sebagai Balasan
Sebagai bentuk “balasan,” Bjorka kembali mengunggah data pribadi anggota Polri melalui situs pribadinya pada Sabtu, 4 Oktober 2025. File CSV berukuran sekitar 40MB tersebut berisi lebih dari 341 ribu data anggota Polri. Informasi yang bocor meliputi nama lengkap, pangkat, unit kerja, nomor ponsel, dan email.
Bjorka mengklaim bahwa orang yang ditangkap polisi adalah salah satu dari banyak yang menggunakan namanya. Dia juga menyebut data ini sebagai “kejutan” bagi pihak kepolisian dan dibagikan secara gratis.
Beberapa ahli keamanan siber dan warganet, termasuk konsultan Teguh Aprianto, menganalisis data tersebut. Mereka mengonfirmasi bahwa sebagian besar data memang valid. Namun, banyak informasi yang sudah kadaluarsa, seperti pangkat dan lokasi kerja anggota Polri yang berubah sejak data dikumpulkan.
“Baca Juga: Bitcoin Cetak Rekor Baru Didorong Kebijakan Pro-Kripto”
Akun Twitter @Vilawnn menunjukkan bahwa data itu berasal dari 2017. Hal ini menimbulkan dugaan data bocor bukan informasi terbaru dari sistem kepolisian.
Bjorka sendiri sudah dikenal luas sebagai peretas yang pernah membobol berbagai instansi penting di Indonesia. Pada 2020, dia membobol data kependudukan dari Dukcapil dan ribuan paspor dari Kementerian Dalam Negeri.
Penangkapan pelaku yang diumumkan beberapa hari lalu justru memperdalam misteri identitas asli Bjorka. Hingga kini, belum ada kepastian apakah hacker tersebut benar-benar tertangkap atau hanya seseorang yang memakai nama itu.
Kasus ini menegaskan pentingnya keamanan data di era digital sekaligus menunjukkan tantangan penegakan hukum terhadap kejahatan siber yang semakin kompleks. Masyarakat dan instansi terkait diimbau terus waspada dan meningkatkan proteksi data penting mereka, terutama dengan memanfaatkan teknologi keamanan terbaru serta edukasi digital untuk mengurangi risiko kebocoran dan serangan siber.