
Petinggi Militer Israel Sebut IDF di Ambang Krisis
infolangsung.org – Kepala Staf Pasukan Pertahanan Israel, Eyal Zamir, memperingatkan kondisi serius yang dihadapi militer negaranya. Dalam rapat kabinet keamanan pada 25 Maret 2026, ia menyebut adanya tanda bahaya yang mengkhawatirkan. Zamir bahkan mengungkapkan telah mengangkat sepuluh “bendera merah” terkait potensi runtuhnya IDF.
Pernyataan tersebut mencerminkan tekanan besar yang dihadapi militer Israel saat ini. Konflik yang berlangsung di berbagai front menjadi faktor utama meningkatnya beban operasional. Situasi ini dinilai berpotensi melemahkan kesiapan militer secara keseluruhan.
“Baca Juga: Alireza Tangsiri Diklaim Tewas, Iran Belum Konfirmasi”
Laporan dari Jerusalem Post menyebutkan adanya kekhawatiran besar di internal militer. Sumber dari IDF mengungkapkan bahwa kekurangan pasukan menjadi masalah utama. Kondisi ini semakin terasa di tengah konflik yang terus berlangsung.
Bahkan dalam situasi damai, Israel membutuhkan lebih banyak personel di berbagai wilayah perbatasan. Area seperti Gaza, Lebanon, Suriah, dan Tepi Barat memerlukan pengamanan intensif. Tanpa penambahan pasukan, beberapa titik strategis berisiko mengalami kekurangan signifikan.
Kondisi ini memperlihatkan bahwa kebutuhan personel militer tidak hanya dipengaruhi konflik aktif. Faktor kesiapsiagaan jangka panjang juga menjadi bagian penting dalam perhitungan militer.
Salah satu faktor yang memperparah kekurangan pasukan adalah belum adanya kebijakan wajib militer bagi komunitas Haredi. Kelompok ultra-Ortodoks ini selama ini sebagian besar tidak diwajibkan mengikuti dinas militer. Hal tersebut berdampak pada terbatasnya sumber daya manusia bagi IDF.
Pemerintah sebelumnya sempat mengusulkan undang-undang untuk memperluas wajib militer kepada kelompok tersebut. Namun, rencana tersebut menuai kontroversi di dalam negeri. Akhirnya, kebijakan itu ditunda demi menjaga stabilitas politik.
Perdana Menteri Benjamin Netanyahu disebut memilih menunda pembahasan aturan tersebut. Keputusan ini diambil dengan alasan menjaga persatuan nasional selama masa perang. Namun, langkah tersebut juga memperpanjang persoalan kekurangan personel militer.
Krisis personel di tubuh militer Israel tidak terjadi secara tiba-tiba. Sejak konflik Gaza yang dipicu serangan Hamas pada 7 Oktober 2023, tekanan terhadap militer terus meningkat. Operasi militer yang berkepanjangan membuat kebutuhan pasukan semakin besar.
Dalam beberapa kesempatan, militer Israel telah melaporkan kekurangan sekitar 12.000 prajurit. Angka ini mencerminkan kesenjangan signifikan antara kebutuhan dan ketersediaan personel. Situasi tersebut menjadi semakin kompleks dengan munculnya konflik tambahan di wilayah lain.
Tekanan operasional yang terus berlangsung juga berdampak pada kesiapan jangka panjang. Militer harus membagi sumber daya untuk berbagai front sekaligus.
“Baca Juga: Square Enix Jadi Publisher Terbaik 2025 Versi Metacritic”
Dengan bertambahnya konflik baru, kondisi militer Israel dinilai semakin rentan. Kekurangan pasukan dapat memengaruhi efektivitas operasi di lapangan. Hal ini berpotensi menurunkan kemampuan respons terhadap ancaman.
Peringatan dari Zamir menunjukkan urgensi untuk segera mengambil langkah strategis. Tanpa solusi konkret, risiko melemahnya IDF dapat semakin nyata. Kondisi ini juga berpotensi memengaruhi stabilitas kawasan secara lebih luas.
Ke depan, keputusan pemerintah terkait penambahan pasukan dan kebijakan militer akan menjadi faktor penentu. Respons yang cepat dan tepat diperlukan untuk menjaga kesiapan militer. Situasi ini akan terus menjadi perhatian utama dalam dinamika keamanan regional.