infolangsung.org – Google baru-baru ini mengumumkan penghapusan lebih dari 10 ribu channel YouTube yang terkait dengan kampanye propaganda dari China dan Rusia. Konten-konten ini tersebar dalam bahasa China dan Inggris. Dengan narasi yang mendukung Presiden Xi Jinping serta mengkritik kebijakan luar negeri Amerika Serikat. Dari total channel yang dihapus, sekitar 7.700 berasal dari China dan lebih dari 2.000 dari Rusia. Langkah ini merupakan bagian dari upaya Google menjaga keamanan platform dan melawan penyebaran disinformasi yang berbahaya.
“Baca Juga: Realme Siapkan GT 8 dan 8 Pro, Beda Spek Rilis Bersamaan”
Propaganda Rusia dan China Disebarkan dalam Bahasa Indonesia dan Bahasa Lain
Google juga mengungkap bahwa propaganda Rusia tidak hanya disebarkan dalam bahasa Rusia atau Inggris, tapi juga menggunakan bahasa Indonesia dan Farsi. Kampanye ini mendukung negara-negara seperti Rusia, Iran, dan China, sekaligus mengkritik NATO dan negara-negara Barat. Penyebaran propaganda dalam berbagai bahasa menunjukkan usaha luas dari kelompok tersebut untuk memengaruhi audiens global, termasuk di Indonesia. Google terus melakukan pengawasan ketat dan menghapus konten yang melanggar kebijakan mereka.
Hubungan Channel Propaganda dengan Media RT dan Sejarah Pemblokiran
Google Juga Hapus Konten Propaganda dari Negara Lain
Selain kampanye dari China dan Rusia, Google juga menghapus kampanye propaganda dari negara-negara lain seperti Azerbaijan, Iran, Turki, Israel, Rumania, dan Ghana. Konten-konten tersebut dianggap menargetkan rival politik dan menyebarkan narasi yang kontroversial, terutama terkait konflik Israel-Palestina. Dalam laporan kuartal kedua, Google menjelaskan bahwa upaya ini merupakan bagian dari pembersihan rutin untuk memastikan platform mereka tidak dimanfaatkan untuk tujuan politik yang merugikan.
“Baca Juga: CMF Watch 3 Pro Meluncur, Tampil dengan Layar Lebih Lega”
Meta Turut Bersihkan Platform dengan Hapus Jutaan Akun Spam
Tidak hanya Google, Meta juga melakukan tindakan besar-besaran dengan menghapus sekitar 10 juta profil, termasuk 500 ribu akun yang diduga melakukan aktivitas spam. Upaya ini bertujuan mengurangi penyebaran spam dan menjaga pengalaman pengguna yang aman di platform media sosial mereka. Langkah pembersihan dari kedua perusahaan besar ini menunjukkan peningkatan fokus pada keamanan dan kualitas konten digital di tahun 2025.