
Google Rencanakan Data Center AI di Luar Angkasa, Apa Alasannya?
infolangsung.org – Google tengah mengembangkan konsep revolusioner untuk membangun data center kecerdasan buatan (AI) di luar angkasa. Proyek ini bertujuan untuk memanfaatkan energi surya secara langsung dan konsisten, yang tidak terpengaruh oleh cuaca dan iklim, untuk mendukung operasional data center AI. Inovasi ini diperkenalkan dalam makalah pracetak berjudul “Towards a Future Space-Based, Highly Scalable AI Infrastructure System Design,” yang merupakan bagian dari proyek riset ambisius bernama Project Suncatcher.
“Baca Juga: Ryokuoushoku Shakai Bakar Panggung Konser Enerjik di Indonesia”
Google menjelaskan bahwa pilihan untuk memindahkan data center AI ke luar angkasa muncul karena keterbatasan sumber daya yang ada di Bumi. Data center AI, yang membutuhkan daya listrik yang sangat besar. Berisiko mengalami lonjakan permintaan listrik, serta emisi berbahaya dari pembangkit listrik konvensional. Dengan memanfaatkan tenaga surya yang tak terbatas di luar angkasa, Google berharap dapat mengurangi dampak lingkungan serta biaya listrik yang tinggi.
“Luar angkasa mungkin menjadi tempat terbaik untuk meningkatkan skala komputasi AI di masa depan,” tulis Travis Beals. Direktur senior Google untuk Paradigms of Intelligence. Dalam postingan blog Google Research.
Salah satu tantangan terbesar yang dihadapi Google adalah biaya pengangkutan komponen infrastruktur AI ke luar angkasa. Biaya pengangkutan ini diperkirakan mencapai sekitar 200 dolar AS per kilogram, sebuah angka yang sangat besar. Komponen utama yang akan diangkut adalah Tensor Processing Unit (TPU), yang merupakan otak dari data center AI. Serta satelit yang akan berfungsi sebagai tempat panel surya untuk menghasilkan listrik. Panel surya ini harus memiliki kapasitas delapan kali lebih besar dibandingkan dengan panel di Bumi.
Selain itu, satelit yang membawa TPU dan panel surya harus dapat berkomunikasi satu sama lain dengan kecepatan transfer data puluhan terabyte per detik, untuk memastikan kelancaran proses komputasi. Hal ini juga memerlukan pengujian ketahanan terhadap radiasi tingkat tinggi yang ada di luar angkasa.
Dengan beroperasinya data center AI di luar angkasa, Google berharap dapat menekan biaya energi yang terus meningkat di Bumi. Di samping itu, pengoperasian di luar angkasa akan mengurangi emisi karbon yang dihasilkan oleh pembangkit listrik tradisional. Yang menjadi isu utama dalam keberlanjutan. Meskipun biaya peluncuran dan pengoperasian pusat data ini tinggi, Google memprediksi bahwa biaya tersebut akan sebanding dengan biaya energi pusat data di Bumi pada pertengahan 2030-an.
“Baca Juga: Samsung Ungkap Exynos 2600, 30% Lebih Dingin dari Exynos 2500″
Google telah merencanakan untuk menguji konsep ini dengan meluncurkan beberapa prototipe satelit pada tahun 2027, bekerja sama dengan perusahaan Planet. Prototipe ini akan digunakan untuk menguji perangkat keras di orbit rendah Bumi (LEO). Guna mempersiapkan pengoperasian data center AI di luar angkasa. Dengan uji coba ini, Google berharap dapat mengidentifikasi tantangan teknis dan operasional yang mungkin dihadapi sebelum memulai skala besar proyek ini.
Konsep data center AI di luar angkasa ini menunjukkan ambisi Google dalam menghadirkan solusi komputasi yang lebih efisien, ramah lingkungan, dan berkelanjutan. Jika berhasil, proyek ini dapat mengubah cara kita berpikir tentang infrastruktur teknologi dan energi di masa depan.